Lazis Nurul Falah
gradient

Pemberdayaan Guru Ngaji Gresik Warnai Bulan Kemerdekaan

Acara • 545x •
image

Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara dan perayaan seremonial. Di ujung pangkah, Kabupaten Gresik, spirit itu diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan. Ahad (17/8/2025), LAZIS Nurul Falah berkolaborasi dengan PT Pelindo menggelar program pendampingan ke-2 olahan kerupuk ikan bagi guru ngaji.

Guru ngaji tampak antusias mengikuti arahan dari Amik, selaku mentor pendamping guru ngaji yang membawakan materi memaksimalkan produk. Aroma khas laut bercampur dengan semangat belajar membuat suasana pendampingan terasa hangat. Para guru ngaji, yang sehari-hari lebih akrab dengan Al-Qur’an, kini berhadapan dengan bahan baku ikan segar, tepung, dan rempah-rempah untuk diolah menjadi kerupuk ikan yang bernilai ekonomi.

Program ini bukan sekadar pelatihan teknis. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar bersama untuk membuka jalan kemandirian ekonomi bagi para guru ngaji. Selama ini, kiprah mereka dalam mendidik generasi Qur’ani kerap tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima. Dengan adanya keterampilan tambahan ini, diharapkan mereka mampu meningkatkan taraf hidup sekaligus melahirkan produk olahan yang layak jual dan kompetitif di pasaran.

Ustaz Achmad Syafi’i, Asisten Direktur LAZIS Nurul Falah, menegaskan bahwa momentum kemerdekaan menjadi pijakan kuat untuk menghadirkan perubahan. “Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka secara ekonomi. Guru ngaji perlu didampingi agar memiliki kemampuan berdaya, sehingga perjuangan mereka dalam dakwah tidak terganggu oleh himpitan ekonomi,” ujarnya.

LAZIS Nurul Falah turut memastikan bahwa hasil olahan kerupuk ikan dari para guru ngaji nantinya memiliki akses pasar yang lebih luas. “Kami ingin program ini tidak berhenti di pelatihan, tetapi benar-benar berlanjut hingga tercipta produk unggulan khas Ujung Pangkah,” imbuhnya.

Guru ngaji mengaku mendapat wawasan baru, mulai dari cara menjual, meracik, hingga teknik pengemasan yang modern untuk layak jual di pusat perbelanjaan. 

Amik, sang pendamping, memberikan tips dengan penuh kesabaran. Ia mengingatkan bahwa kunci produk olahan bukan hanya soal rasa, tetapi juga konsistensi dan inovasi. “Kalau mau bertahan di pasar, harus ada ciri khas. Kerupuk ini bisa menjadi identitas lokal Ujung Pangkah dan dikemas semenarik mungkin yang disesuaikan dengan pasar,” tuturnya.

Dengan demikian, gema kemerdekaan tahun ini di Gresik bukan hanya terdengar lewat upacara, tetapi juga melalui aksi nyata pemberdayaan. Para guru ngaji kini tak hanya menjadi penjaga akhlak generasi, tetapi juga agen kemandirian ekonomi di tengah masyarakat pesisir.