Pawai Rojabiyah Santri adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan di Kampung Qur'an Malang, yang diikuti oleh seluruh santri, dewan guru dan wali santri.
Kegiatan tersebut dikemas dengan konsep JJS (jalan jalan sore), yakni dengan mengelilingi kampung Qur'an yang berjarak kurang lebih 3 KM dari start ke finish. Agar menambah semangat dan antusiasnya para santri, maka dibuatkanlah kerajinan berupa 3 Tumpeng Raksasa yang berasal dari snack atau jajan rentengan yang ditata sedemikian rupa sehingga bentuknya sama persis layaknya tumpeng pada umumnya.
"Jajan rentengan yang dirakit menjadi sebuah tumpeng tersebut berasal dari iuran para santri dan dewan guru, mereka bekerjasama agar pembuatan 3 tumpeng terasa lebih ringan dan kegiatan pawai tersebut bisa terlaksana dengan istiqomah tanpa harus membebani fihak manapun. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing." Tutur Khoirul Anam selaku pembina Kampung Qur'an.
Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 13.30 - 16.00 WIB tersebut tentu mengundang rasa penasaran yang begitu tinggi dari masyarakat setempat, antusias mereka begitu sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dari respek masyarakat yang berhamburan keluar rumah untuk menyaksikan iringan tumpeng yang dibawa oleh wali santri yang diiringi dengan bacaan "Allohumma baariklanaa fii rojaba, wa sya'bana waballighnaa romadhona".
Dalam perjalanan sepanjang 3 KM tersebut terdapat 3 pos yang digunakan untuk beristirahat. Di masing-masing pos, para santri dipersilahkan untuk beristirahat selama 15 menit, untuk minum air mineral sembari menikmati pemandangan pedesaan yang sejuk dan damai.
Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali ini adalah dalam rangka memperingati hari besar Islam Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sekaligus menjadi edukasi bagi para santri tentang pentingnya kita sebagai umat Islam untuk jangan sampai melupakan sejarah agamanya, dan sejarah perjuangan nabi-nya yang mulia, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW.
Pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan yang dilalui oleh para santri tersebut adalah, bahwa dalam peristiwa Isra' wal Mi'raj yang terjadi di bulan Rojab tersebut, nabi Muhammad juga melaksanakan sebuah perjalanan panjang, yang berawal dari Masjidil Haram menuju Majidil Aqsho, kemudian dari Masjidil Aqsho menuju Sidrotul Muntaha.
Tiga Tumpeng yang dibawa mulai dari start sampai finish tersebut melambangkan Iman, Islam dan Ihsan, yang harus konsisten kita bawa mulai dari start kehidupan, sampai dengan akhir dari kehidupan kita di alam dunia ini, dengan demikian kita akan mendapatkan Husnul Khotimah, serta kebahagiaan abadiyah kelak di Syurganya Allah SWT, aamiin.
Acara yang terakhir dari kegiatan Pawai Rojabiyah adalah acara tasyakuran, yakni dengan cara membagikan jajan kepada seluruh santri dan wali santri yang mengikuti Pawai Rojabiyah dari awal sampai akhir. Pelajaran yang bisa diambil adalah, kalau kita mau menjalani proses perjalanan mulai dari start sampai finish dengan tetap konsisten mempertahankan tiga tumpeng tersebut, maka andingnya kita akan menikmati jajan sebagai hasil dari sebuah perjuangan panjang yang sudah dilakukan.
Oleh karena itu, Khoirul Anam selalu mengajarkan kepada para santri, bahwa barang siapa yang tidak mampu menjalani sebuah "Proses", maka sampai kapanpun dia tidak akan bisa menikmati sebuah "Hasil".