Lazis Nurul Falah
gradient

Orang-Orang Langka yang Merawat Perjuangan Dakwah Al-Qur’an

Acara •
image

Di tengah kesibukan dan beragam pilihan pekerjaan yang terbuka, ada orang-orang yang memilih mengabdikan sebagian besar waktunya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Mereka adalah para guru ngaji, sosok yang setiap hari membersamai anak-anak mengenal huruf demi huruf, melafalkan ayat demi ayat, hingga menanamkan kecintaan kepada Kalamullah.

Jalan pengabdian itu tidak selalu mudah. Ada waktu yang harus diluangkan, tenaga yang dicurahkan, dan kesabaran yang terus dijaga. Namun, bagi para guru ngaji, mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas mengajar. Ada cita-cita besar yang ingin mereka rawat: melahirkan generasi rabbani yang dekat dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman kehidupan.

Bagi para guru ngaji, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk merawat kembali tekad dalam mendidik generasi rabbani. Sementara bagi peserta Bimbingan Al-Qur’an Orang Tua, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperoleh nasihat, meneguhkan semangat belajar, dan terus memperbaiki interaksi dengan Kalamullah.

Semangat itulah yang mempertemukan para guru ngaji dari berbagai wilayah Blitar Raya dalam kegiatan rutin bersama LAZIS Nurul Falah dan Tilawati Blitar. Bertempat di kantor bersama LAZIS Nurul Falah dan Tilawati Blitar, mereka berkumpul untuk kembali menguatkan tekad dalam perjuangan dakwah Al-Qur’an.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah. Di tengah rutinitas mengajar yang dijalani di wilayah masing-masing, para guru ngaji kembali mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan nasihat, berbagi semangat, dan mengingat tujuan besar dari pengabdian yang mereka jalani.

Hadir dalam kesempatan tersebut Dr. KH. Ali Muaffa, M.Ag., muallif sekaligus pengasuh Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah. Dalam nasihatnya, ia mengingatkan bahwa guru ngaji merupakan sosok yang istimewa di tengah masyarakat.

“Semua guru-guru ngaji saat ini adalah orang-orang langka. Di saat banyak orang berbondong-bondong ingin menjadi pegawai dan menekuni pekerjaan lainnya, para ustaz dan ustazah justru memilih jalan pengabdian untuk mengajarkan Al-Qur’an,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang guru ngaji memiliki nilai yang jauh melampaui ruang belajar. Di tangan merekalah anak-anak mulai mengenal Al-Qur’an, belajar membacanya dengan benar, dan perlahan menumbuhkan kecintaan terhadap ajaran Islam.

Perjuangan itu mungkin tidak selalu terlihat. Tidak semua orang mengetahui berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membimbing santri, berapa kali bacaan harus diperbaiki, atau berapa besar kesabaran yang dibutuhkan ketika mendampingi anak-anak belajar. Namun, dari proses yang berulang itulah fondasi generasi Qur’ani dibangun.

Menjaga semangat para guru ngaji menjadi bagian penting dari upaya memperluas dakwah Al-Qur’an. Mereka tidak cukup hanya dituntut untuk terus mengajar, tetapi juga perlu mendapatkan penguatan agar tetap teguh menjalani amanahnya.

LAZIS Nurul Falah bersama Tilawati Blitar berupaya merawat semangat perjuangan tersebut. Pertemuan menjadi pengingat bahwa para guru ngaji tidak berjalan sendirian. Ditambah pesan dari Gus Iqdam tentang perjuangan dakwah Al-Qur’an harus tetap dilestarikan di bumi ini. Ada ikhtiar bersama yang perlu terus dijaga agar pendidikan Al-Qur’an tumbuh dan menjangkau lebih banyak generasi.

Melalui ketekunan yang tampak sederhana itulah masa depan generasi Qur’ani dirawat. Selama masih ada guru ngaji yang bersedia menjaga api pengabdian itu, harapan untuk melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an akan terus menemukan jalannya.