Lazis Nurul Falah
gradient

Menyambut Hari Santri Nasional: Merawat Tradisi, Meretas Zaman

Acara • 548x •
image

Gema shalawat dan semangat juang para pahlawan bangsa membahana di Kampung Qur’an Malang, Ahad (19/10/2025). Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, para santri binaan LAZIS Nurul Falah keliling kampung, menggelar kirab syiar yang khidmat. Selama proses pawai, santri mengucap zikir untuk mengenang jejak langkah perjuangan dan dakwah Islam. Hal ini menegaskan peran vital santri dalam arsitektur pembangunan negeri.

Langit Malang yang cerah menjadi saksi bisu langkah-langkah kecil para penerus risalah. Bagi mereka, kirab ini adalah peneguhan identitas di tengah zaman yang terus berubah. Ustaz Khoirul Anam, Kepala Kampung Qur’an Malang, memberikan pandangan mendalam tentang realitas santri hari ini. Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah sekadar menghafal, melainkan membentuk karakter di era digital.

“Sebuah pepatah bijak mengingatkan, ‘Kalau engkau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah siapa temanmu’,” tutur Ustaz Khoirul. Di sinilah esensi TPQ. Dari interaksi harian antar teman, mental dan karakter mereka terbentuk. Mereka belajar bermasyarakat, memecahkan masalah, dan menempa kedewasaan.

Para santri Gen-Z, tidak lagi berjarak dengan teknologi. Mereka piawai menggabungkan tradisi mengaji dengan inovasi modern. Menilik di media sosial, mereka berkolaborasi menciptakan konten-konten kreatif, menyuarakan ajakan kebaikan dengan bahasa yang relevan.

Inilah titik persimpangan krusial. Seorang santri yang hanya bermain, enggan berkarya atau berinovasi, kelak akan gagap menghadapi realitas. "Mereka akan kebingungan dan sulit beradaptasi," tegasnya.

Lanjut Ustaz Khoirul, menuntut integrasi. Keterampilan teknis yang didasari pondasi ilmu agama yang kokoh adalah keniscayaan. "Persoalan santri dewasa ini adalah bagaimana memadukan iman, sains, dan teknologi secara harmonis," tambahnya.

Meski demikian, permasalahan klasik remaja tetap menjadi fokus utama. Tantangan paling umum adalah soal emosi. Usia mereka adalah masa pencarian jati diri, titik labil pengendalian diri. Kita harus menjaga mereka agar tidak terjerumus pada arus kontra-produktif.

TPQ dan lembaga Islam seperti Kampung Qur’an Malang, yang didukung oleh para donatur LAZIS Nurul Falah, hadir sebagai kawah candradimuka. "Kami berupaya mengawasi dan mengarahkan potensi mereka. Ini adalah ikhtiar kita bersama untuk menciptakan santri yang tak hanya saleh, tapi juga mampu bersaing dengan ide dan inovasi," tutupnya.

TPQ bukan lagi sekadar tempat belajar Al-Qur'an; ia telah menjadi benteng peradaban yang membentengi generasi muda dari derasnya arus globalisasi yang ganas.