Santri Madrasatul Qur’an Braille Nurul Falah binaan LAZIS Nurul Falah Mojokerto menghadiri undangan LPMQ (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran) Kementerian Agama RI dalam Uji terap Panduan Membaca Al-Qur’an Braille yang dilaksanakan di Hotel Novotel Samator Kedung Baruk Surabaya. Santri MQB NF di dampingi langsung oleh Adi selaku kepala cabang NF Mojokerto, pada selasa 11 Juli 2023.
Hadir kurang lebih 100 peserta disabilitas Netra dari berbagai kota di jawa timur seperti Jombang, Mojokerto, pasuruan, Malang, Madura dan kota di Jawa Timur lainnya untuk hadiri uji terap panduan membaca Al-Qur’an Braille. Pemateri tersebut disampaikan oleh Zainul Muttaqin M. Pd juga termasuk disabilitas netra. Tujuannya adalah memberikan panduan terbaik yg efektif dan efisien dalam program pembelajaran Al-Qur’an Braille bagi tuna netra di Indonesia.
Deni Hudaini selaku kepala LPMQ Kemenag RI mengatakan, Al-Qur’an Braille datang pertama kali dari program hibah Yordania, tahun 1950-an dan saat itu tuna netra Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an Braille. Pada tahun 1969 baru tunanetra Indonesia bisa mulai membaca Al-Qur’an Braille.
Dia melanjutkan, “Puncaknya tahun 1984 kementerian agama RI menetapkan mushaf standar Indonesia, dengan membakukan rosm (bentuk huruf), Harokatnya, tanda bacanya dan tanda waqafnya melalui musyawarah ulama Al-Quran selama hampir 10 tahun dari tahun 1974 sampai tahun 1983 dengan ditetapkan 3 jenis mushaf yakni mushaf utsmani, bahriyah (qur’an pojok-qudus) dan al-Qur’an Braille.
Dia mengucapkan syukur alhamdulillah, saat ini disabilitas rungu baru mendapatkan Mushaf standar Isyarah dari Kemenag RI. Sehingga kita akan mengakomodir kebutuhan disabilitas lainnya juga agar bisa dekat dengan Al-Quran.
Sejak tahun 1984 sudah ada al-Qur’an Braille, sementara pedomannya blm pernah di susun dan tersusun. Dari tahun 1984 sampai tahun 2010 ada berbagai macam penulisan tentang penulisan braille yakni kutub jogja dan kutub bandung dalam sistem penulisannya.
“Maka tahun 2010 diundang dua pihak tersebut oleh Kemenag untuk menghasilkan standar yang sama. Sehingga tahun 2011 dikeluarkan pedoman membaca dan menulis huruf braille yang pertama.” jelasnya.
Ketua LPMQ Kemenag RI menjelaskan, dalam penulisan mushaf ada kaidah harus mengikuti rasm utsmani, namun bila dikhawatirkan akan salah baca bagi teman-teman disabilitas netra maka boleh dengan rasm Imla’i, namun sampai saat ini proses dalam penulisannya masih banyak yang perlu untuk dibakukan oleh lajnah dalam perbedaan tanda-tanda bacanya untuk disesuaikan dari hasil musyawarah ulama’ Al-Qur’an Indonesia.
Adi Sugeng Pribadi sebagai ketua LAZIS Nurul Falah Cabang Mojokerto menyampaikan, sampai saat ini belum ada iqro’ atau metode dasar untuk disabilitas netra yg awal-awal untuk belajar Al-Qur’an Braille yang mudah, efisien dan efektif inilah tantangan yang menjadi tanggung jawab kita yang mengaku pendakwah kitab suci Al-Qur’an.
“Semoga segala pikiran yang kita curahkan serta segala upaya yang dilakukan menjadi jariyah ilmu bermanfaat yang akan mengalirkan pahala terus menerus.” pungkasnya.