Sebuah ikhtiar memutus rantai keterbatasan ekonomi kembali terajut di ruang pertemuan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Safira pada Selasa (18/11/2025). Pagi itu, suasana terasa berbeda. Tidak hanya aroma semangat yang menyeruak, namun juga keseriusan untuk menatap masa depan yang lebih tertata.
Di bawah naungan program pendampingan LAZIS Nurul Falah yang bersinergi dengan PT Pelindo, pertemuan kelima ini menjadi titik krusial bagi para anggota KUB Safira. Mereka tidak sedang diajarkan cara menggoreng kerupuk, melainkan diajak berpikir layaknya seorang entrepreneur melalui bedah materi Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT).
Hadir sebagai pendamping, Ustaz Hans Mahaputra Yudha Wijaya, S.H., membawakan materi ini dengan pendekatan yang lugas namun menyentuh substansi. Hans menekankan bahwa dalam gelombang persaingan industri kerupuk yang semakin ketat di tahun 2025, memiliki produk enak saja tidak cukup. Diperlukan peta jalan yang jelas untuk bertahan dan memenangkan pasar.

"SWOT bukan sekadar teori di atas kertas. Ini adalah alat bedah untuk melihat 'kesehatan' usaha kita. Kita harus jujur melihat ke dalam, apa kekuatan yang bisa kita banggakan dan apa kelemahan yang selama ini menggerogoti," ungkap Ustaz Hans.
Materi dipaparkan secara mendalam dan menyeluruh, memandu peserta untuk lebih jeli menangkap peluang pasar yang sering kali tak terlihat, sekaligus memetakan potensi ancaman dari luar. Suasana pelatihan terasa hidup, antusiasme para ustadzah anggota KUB Safira begitu kentara saat mereka menyimak dan terlibat aktif dalam penyusunan matriks SWOT.

Di tengah kesibukan tersebut, Ustaz Najib, selaku Manajer Program dan Pendayagunaan LAZIS Nurul Falah, turut memantau jalannya pendampingan. Ia melihat proses ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral lembaga kepada donatur, memastikan bahwa dana zakat dan infak yang disalurkan benar-benar berdampak pada kemandirian umat.
Ustaz Najib menegaskan bahwa materi manajemen strategis seperti ini adalah fondasi vital yang sering dilupakan oleh pelaku usaha mikro. “Analisis SWOT ini ibarat kompas bagi nakhoda kapal. Tanpa mengetahui arah angin, kondisi kapal, dan peta gelombang, kita hanya akan terombang-ambing tanpa tujuan yang pasti. Materi SWOT sangat penting bagi pelaku usaha agar setiap langkah yang diambil terukur dan memiliki visi jangka panjang, bukan sekadar berdagang untuk hari ini,” tuturnya.
Harapan besar kini tertanam di pundak KUB Safira. Hasil analisis SWOT hari ini diharapkan menjadi acuan konkret dalam menentukan langkah strategis ke depan. Semangat juang para anggota KUB Safira menjadi bukti bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberikan kail, tetapi juga mengajarkan cara membaca arah angin untuk mendapatkan hasil tangkapan terbaik.