KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَأَمَرَهُ بِحِفْظِ اللِّسَانِ عَنِ الزُّوْرِ وَالْبُهْتَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْعَفُوُّ الْغَفُوْرُ الدَّيَّانُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ وَأَفْصَحُ مَنْ نَطَقَ بِالْإِيْمَانِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ صَانُوا أَلْسِنَتَهُمْ عَنِ الْحَرَامِ وَالْفِتَنِ فِي كُلِّ زَمَانٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya diwujudkan dalam menjaga anggota tubuh kita dari perbuatan maksiat lahiriah, tetapi juga ketakwaan yang menuntut kita untuk mengendalikan satu organ kecil namun dampaknya luar biasa besar, yaitu lisan kita.
Allah SWT memberikan karunia lisan kepada manusia sebagai alat untuk berkomunikasi, berdzikir, dan menyebarkan kebaikan. Namun, lisan juga bisa menjadi bumerang yang paling berbahaya bagi keimanan seseorang jika tidak dijaga. Di era digital saat ini, makna lisan telah bertransformasi; ia tidak hanya berupa ucapan yang keluar dari mulut, melainkan juga ketikan jempol kita di layar media sosial, kolom komentar, dan aplikasi pesan singkat.
Oleh karena itu, menjaga lisan, baik lisan ucapan maupun lisan tulisan adalah perkara yang sangat krusial dalam Islam.
Jamaah yang berbahagia,
Mengapa Islam begitu tegas memerintahkan umatnya untuk menjaga lisan?
Pertama, Lisan adalah Cerminan Kualitas Iman.
Rasulullah SAW menjadikan kemampuan menjaga lisan sebagai indikator apakah iman seseorang itu sejati atau sekadar hiasan di bibir belaka. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaklah ia diam."
Pilihan bagi seorang mukmin hanya dua: berbicara hal yang mendatangkan pahala dan maslahat, atau memilih diam. Diamnya seorang mukmin karena takut berdosa adalah sebuah ibadah.
Kedua, Setiap Ucapan Diawasi dan Dicatat secara Akurat.
Banyak manusia yang meremehkan satu atau dua patah kata yang mereka ucapkan atau ketik. Mereka mengira hal itu sepele, padahal tidak ada satupun kata yang luput dari pengawasan malaikat. Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat jelas dalam Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
Setiap hoaks yang kita sebar, setiap ghibah yang kita nikmati, dan setiap caci maki yang kita lontarkan di kolom komentar, semuanya akan berwujud lembaran hisab yang harus kita pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah kelak.
Ketiga, Lisan Bisa Menjadi Penyebab Utama Terjerumusnya Manusia ke Neraka.
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabat Mu'adz bin Jabal tentang amalan apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Rasulullah SAW lalu memegang lidah beliau dan bersabda: "Jagalah ini!" Mu'adz bertanya heran: "Wahai Nabiyullah, apakah kita akan dihukum karena apa yang kita ucapkan?" Rasulullah SAW menjawab:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Artinya: "Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan akibat dari hasil tuaian lisan-lisan mereka?" (HR. Tirmidzi).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Menjaga lisan bukan berarti kita pasif. Justru sebaliknya, gunakanlah lisan kita secara produktif untuk mengetuk pintu rahmat Allah. Basahi lisan kita dengan dzikrullah, gunakan untuk mendamaikan dua orang yang bersaudara yang sedang berselisih, dan manfaatkan jempol kita untuk menyebarkan syiar dakwah, mengajak pada zakat, infaq, sedekah, serta kepedulian sosial.
Mari kita bermuhasabah sebelum berbicara atau membagikan sesuatu di media sosial. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah kalimat ini mengandung rida Allah atau murka Allah?" Jika mengandung rida Allah, sampaikanlah. Jika meragukan atau berpotensi menyakiti hati orang lain, tahanlah. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan dan hati kita dari bahaya fitnah, dan menjadikannya sebagai jalan meraih keselamatan dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup khutbah di siang hari yang penuh berkah ini, marilah kita senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah SWT. Di zaman yang penuh dengan hiruk-pikuk informasi dan provokasi ini, jadikan lisan dan ketikan kita sebagai oase yang menyejukkan, yang menebar kasih sayang, dan membangun persatuan umat. Ingatlah janji Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga." (HR. Bukhari).
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, hiasilah lisan kami dengan kejujuran, dzikir, dan kalimat-kalimat yang Engkau ridai. Jagalah lidah dan jempol kami dari perbuatan ghibah, fitnah, hoaks, serta mencaci maki sesama hamba-Mu. Bersihkanlah hati kami dari penyakit sombong dan dengki. Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, berkahilah harta dan keluarga kami, serta matikanlah kami semua dalam keadaan lisan yang basah menyebut nama-Mu secara husnul khatimah.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ... فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
penulis: Akbar Trio Mashuri (LAZIS Nurul Falah)