Lazis Nurul Falah
gradient

Menjadi Teladan Bagi Orang Lain

Edukasi •
image

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَنَا أُمَّةً وَسَطًا لِنَكُونَ شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ، وَأَمَرَنَا بِأَنْ نَكُوْنَ قُدْوَةً حَسَنَةً فِي الْأَخْلَاقِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ سَائِرِ الْأَجْنَاسِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَأُسْوَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا خَيْرَ هُدَاةٍ وَدُعَاةٍ بِأَفْعَالِهِمْ قَبْلَ أَقْوَالِهِمْ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, serta bertekad untuk terus meningkatkan mutu dan bobot ketakwaan kita. Takwa yang tidak sekadar berhenti pada pemenuhan kewajiban ritual pribadi, tetapi takwa yang memancar keluar dalam wujud akhlak mulia dan perilaku luhur, sehingga kehadiran kita mampu menjadi inspirasi dan teladan bagi lingkungan sekitar.

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia kerap lebih mudah menilai apa yang mereka lihat daripada apa yang sekadar mereka dengar. Seribu untaian nasihat yang indah akan kehilangan maknanya jika orang yang menyampaikannya justru melakukan kebalikannya. Sebaliknya, satu keteladanan nyata yang dipraktikkan secara tulus dan konsisten mampu menggerakkan hati puluhan bahkan ratusan manusia untuk ikut berbuat kebaikan.

Inilah metode dakwah yang paling agung: dakwah bil hal mengajak manusia kepada kebaikan melalui perbuatan nyata dan teladan hidup.

Jamaah yang berbahagia,

Menjadi teladan bagi orang lain bukanlah hak istimewa para ustadz atau pemuka agama semata. Setiap dari kita baik sebagai seorang ayah, ibu, pemimpin di tempat kerja, tetangga, maupun pemuda di media sosial memiliki tanggung jawab moral untuk menampilkan wajah Islam yang indah.

Bagaimana syariat Islam mengajarkan kita untuk membangun karakter teladan ini?

Pertama, Memulai Keteladanan dari Diri Sendiri (Ibda' Binafsik). 

Keteladanan tidak akan pernah lahir jika terjadi jurang pemisah antara ucapan dan perbuatan. Allah SWT mengingatkan kita dengan teguran yang sangat mendalam dalam Surah Al-Baqarah ayat 44:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya: "Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?"

Sebelum kita menuntut anak-anak kita shalat tepat waktu, jadilah teladan yang bergegas menuju sajadah saat adzan berkumandang. Sebelum kita menasihati tetangga agar rukun, pastikan lisan dan sikap kita tidak pernah menyakiti mereka. Keteladanan dimulai dari keberanian menundukkan hawa nafsu sendiri sebelum mencoba mengatur orang lain.

Kedua, Menjadi Pelopor Kebaikan yang Menghidupkan Pahala Jariyah. 

Setiap kali seseorang berani memulai sebuah kebiasaan baik, misalnya berani transparan dan jujur di kantor, memelopori gerakan sedekah subuh, atau mendamaikan dua pihak yang berselisih, lalu kebaikan tersebut dicontoh oleh orang lain, maka ia akan memanen pahala yang tidak pernah putus. Rasulullah SAW menegaskan kabar gembira ini dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: "Barangsiapa yang memulai (mencontohkan) tradisi yang baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka."

Bayangkan betapa beruntungnya seorang hamba yang telah wafat dan berada di alam barzakh, namun buku amalnya terus bertambah tebal karena kebiasaan shalat berjamaah, kedermawanan berzakat, atau integritas yang ia teladankan terus hidup dan diteruskan oleh anak keturunannya serta para sahabatnya.

Ketiga, Keteladanan yang Berakar pada Kerendahan Hati.

Menjadi teladan tidak sama dengan merasa diri paling suci atau lebih mulia dibanding orang lain. Teladan sejati lahir dari sikap tawadhu'—rendah hati, mau mendengarkan orang lain, pemaaf, dan ringan tangan membantu kaum dhuafa. Rasulullah SAW adalah pemimpin tertinggi umat, namun beliau menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan tidak segan makan bersama budak serta orang miskin.

Keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW inilah yang menarik simpati lawan menjadi kawan, kafir menjadi mukmin, dan masyarakat jahiliyah menjadi generasi emas terbaik peradaban.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di era digital hari ini, dunia sedang mengalami krisis keteladanan (krisis figur panutan). Publik disuguhi konten yang mengejar ketenaran instan, pamer kemewahan, dan caci maki tanpa etika. Di sinilah tugas kita sebagai Muslim: jadilah oase di tengah gurun.

Jadilah kepala keluarga yang teladan dalam membimbing istri dan anak menuju surga. Jadilah pekerja yang teladan dalam amanah dan etos kerja. Jadilah warga masyarakat yang teladan dalam empati, kedermawanan, serta gotong royong memajukan lingkungan.

Semoga Allah SWT membersihkan niat kita, meluruskan perilaku kita, dan menganugerahkan taufiq-Nya sehingga kita mampu menjadi imāman lil muttaqīn pemimpin dan teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.

—-

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah di siang hari yang penuh berkah ini, marilah kita senantiasa memohon keteguhan iman dan keistiqamahan kepada Allah SWT. Jangan pernah meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun yang kita contohkan. Senyuman kita saat menyapa tetangga, ketenangan kita saat menahan amarah, serta kesediaan kita menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq dan sedekah, bisa menjadi wasilah hidayah bagi orang lain yang sedang memperhatikan langkah kita.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, perbaikilah akhlak kami sebagaimana Engkau telah memperindah rupa kami. Jadikanlah kami pribadi-pribadi yang mampu menebar kebaikan, menjadi teladan kebenaran bagi keluarga, anak-cucu, dan masyarakat kami. Ya Allah, jauhkanlah diri kami dari sifat munafik; menyuruh kebaikan namun lalai mengamalkannya. Lembutkanlah hati kami untuk selalu gemar bersedekah, menunaikan zakat, dan menolong kaum yang lemah. Bimbinglah langkah hidup kami hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khatimah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.