Mendidik dan mengurus anak merupakan amanah agung yang membutuhkan kesabaran, kearifan, serta teladan yang tepat. Di tengah tantangan pengasuhan modern, kembali kepada sunnah Nabi Muhammad saw. adalah panduan terbaik untuk mencetak generasi yang tangguh secara mental, berbudi pekerti luhur, dan memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tua.
Rasulullah saw. tidak pernah menerapkan pola asuh yang keras, otoriter, atau penuh kekerasan. Beliau menampilkan figur pengasuh yang hangat, penuh empati, namun tetap memegang teguh nilai-nilai kebaikan.
Mendidik dengan Kelembutan dan Kasih Sayang
Pilar utama dalam pengasuhan Rasulullah saw. adalah kelembutan (ar-rifq). Beliau sangat menyayangi anak-anak, sering memeluk, mencium, serta memangku mereka. Ketika anak-anak berbuat salah karena ketidakpahamannya, beliau membetulkannya dengan tenang tanpa amarah yang meledak-ledak.
Kelembutan yang dihadirkan orang tua dalam rumah tangga menciptakan rasa aman (secure attachment) bagi jiwa anak. Anak yang tumbuh dalam naungan kasih sayang akan memiliki harga diri yang positif dan lebih mudah menerima bimbingan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
Artinya: "Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: 'Apakah kalian mencium anak-anak kecil? Kami tidak pernah mencium mereka.' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Apakah aku mampu menanamkan kasih sayang di hatimu jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang itu dari hatimu?'" (HR. Bukhari no. 5998 & Muslim no. 2317)
Sikap tegas beliau terhadap perlakuan penuh kasih sayang kepada anak menjadi teguran keras bagi orang tua yang menganggap ekspresi cinta sebagai bentuk kelemahan. Mencium dan memeluk anak adalah ibadah yang menanamkan benih kasih dalam jiwa mereka.
Menghormati dan Mendengarkan Anak
Rasulullah saw. selalu memperlakukan anak-anak sebagai pribadi yang bermartabat. Beliau menyapa mereka terlebih dahulu ketika bertemu, mendengarkan celoteh mereka dengan penuh perhatian, serta tidak ragu untuk diajak bermain bersama.
Beliau juga tidak pernah sungkan untuk merendahkan posisi tubuhnya agar sejajar dengan anak-anak saat berbicara. Penghormatan ini melatih anak agar memiliki rasa percaya diri dan keterampilan komunikasi yang baik sejak usia dini.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia melewati anak-anak kecil lalu mengucapkan salam kepada mereka, dan ia berkata: 'Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melakukan hal ini.'" (HR. Bukhari no. 6247 & Muslim no. 2698)
Mengucapkan salam dan mendengarkan anak melatih mereka untuk merasa dihargai. Ketika anak merasa didengarkan oleh orang tuanya, mereka tidak perlu mencari perhatian di luar rumah dengan cara-cara yang negatif.
Pengasuhan Bertahap Sesuai Usia Tumbuh Kembang
Dalam tradisi pengasuhan Islam yang bersumber dari teladan nabawi dan para sahabat, mengurus anak dilakukan secara bertahap sesuai fase usianya:
- Fase 0–7 Tahun (Bermain dan Memanjakan): Melayani anak dengan penuh kasih sayang, mengajak bermain, serta memberikan rasa aman tanpa tekanan beban aturan yang kaku.
- Fase 7–14 Tahun (Disiplin dan Pengajaran): Mulai mengenalkan aturan, mendidik shalat, melatih tanggung jawab harian, dan menanamkan nilai adab secara konsisten.
- Fase 14–21 Tahun (Sahabat dan Diskusi): Memperlakukan anak sebagai sahabat, mengedepankan dialog dua arah, serta melibatkan mereka dalam mengambil keputusan keluarga.
Tahapan ini memastikan bahwa perkembangan emosional, kognitif, dan spiritual anak berjalan secara seimbang tanpa memaksakan kematangan sebelum waktunya.
Meneladani Rasulullah saw. dalam Mengurus Anak Hari Ini
Mengurus anak ala Rasulullah saw. memerlukan kesabaran ekstra dan kompensasi waktu dari orang tua. Kebiasaan membentak, membanding-bandingkan, atau memberikan hukuman fisik yang menyakiti harus diganti dengan nasihat mendidik (al-mau'izhatul hasanah) dan keteladanan nyata.
Mari kita jadikan rumah kita sebagai tempat yang hangat dan penuh canda tawa bagi anak-anak. Dengan meneladani pola asuh Nabi saw., kita sedang berikhtiar melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dan bertakwa, tetapi juga berhati lembut dan menyebarkan keberkahan bagi lingkungan sekitarnya.