Lazis Nurul Falah
gradient

Membangun Iman, Memupuk Kebiasaan

Keislaman • 213x •
image

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي رَفَعَ مَنَازِلَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَأَمَرَنَا بِالِاسْتِقَامَةِ عَلَى الطَّاعَاتِ وَلُزُوْمِ النَّهْجِ الْوَاضِحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ دَاوَمُوا عَلَى أَعْمَالِ الْبِرِّ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيْلًا.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, serta bertekad untuk terus memperkokoh kualitas takwa kita. Takwa yang tidak hanya menyala sesaat ketika berada di masjid, melainkan takwa yang menjelma menjadi nafas dan kebiasaan hidup sehari-hari.

Dalam ajaran Islam, keimanan bukanlah entitas yang statis atau diam di tempat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan sebuah kaidah penting mengenai sifat iman: al-īmānu yazīdu wa yanqush, iman itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan, dan ia menyusut serta meredup karena maksiat dan kelalaian.

Jika iman kita ibarat tanaman yang hidup, maka ia membutuhkan pupuk dan air setiap hari agar tidak kering dan mati. Pupuk terbaik untuk menjaga dan membangun bangunan iman tersebut adalah dengan memupuk kebiasaan amal shalih yang konsisten (dawam/istiqamah).

Karakter seorang mukmin sejati tidak dibentuk oleh letupan emosi spiritual yang besar namun hanya terjadi sekali dalam setahun. Karakter iman yang kokoh dibangun dari rutinitas-rutinitas kecil kebaikan yang diulang-ulang setiap hari hingga mendarah daging menjadi sebuah karakter.

Jamaah yang berbahagia,

Bagaimana syariat Islam mengajarkan kita merawat iman melalui kekuatan pembiasaan ini?

Pertama, Mengutamakan Amalan yang Kontinu Meskipun Sedikit.

Banyak orang bersemangat beribadah secara berlebihan di satu waktu, namun setelah itu ia merasa jenuh, lelah, dan akhirnya berhenti sama sekali. Rasulullah SAW mengajarkan metode terbaik dalam membangun kebiasaan ibadah. Beliau bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten (kontinu) dilakukan, meskipun sedikit."

Dua rakaat shalat dhuha atau witir yang dikerjakan setiap hari jauh lebih dicintai Allah daripada shalat puluhan rakaat tetapi hanya dilakukan sebulan sekali lalu ditinggalkan. Membaca satu halaman Al-Qur'an secara rutin setiap subuh jauh lebih menguatkan iman daripada membaca satu juz namun hanya setahun sekali saat bulan Ramadan. Kontinuitas inilah yang membentuk urat-urat keimanan kita.

Kedua, Mengubah Ketaatan Menjadi Kebiasaan Otomatis.

Ketika sebuah amalan shalih dipupuk terus-menerus, ia akan berubah dari rasa "terpaksa", menjadi "terbiasa", hingga akhirnya menjadi "kebutuhan jiwa".

Seseorang yang membiasakan diri bangun subuh berjamaah, membiasakan diri bersedekah setiap Jumat, membiasakan lisan beristighfar di kala senggang, lama-kelamaan tidak lagi merasakan amalan tersebut sebagai beban yang berat. Jiwanya justru akan merasa gelisah dan hampa jika melewatkan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Inilah buah dari firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."

Ketiga, Memupuk Kebiasaan Peduli dan Berbagi.

Membangun iman tidak hanya terbatas pada kebiasaan ibadah mahdhah secara personal. Iman yang matang terpancar melalui pembiasaan kesalehan sosial. Biasakan tangan kita untuk tidak melewati hari tanpa berbuat baik kepada sesama: menyisihkan rezeki melalui infaq subuh, menunaikan kewajiban zakat tepat waktu tanpa menunda, serta membiasakan diri menahan lisan dari perkataan buruk dan ghibah. Kebiasaan berbagi dan berempati inilah yang melembutkan hati yang keras dan membersihkan jiwa dari racun kekikiran.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Maka dari itu, marilah kita evaluasi rutinitas harian kita. Kebiasaan apa yang paling banyak menyita waktu kita setiap hari? Apakah kebiasaan menatap layar ponsel tanpa arah, atau kebiasaan menatap lembaran mushaf dan berdzikir? Apakah kebiasaan mengeluh, atau kebiasaan bersyukur dan berikhtiar?

Jangan menunda untuk memulai langkah kebaikan. Pilihlah satu atau dua amalan sunnah hari ini:

  1. Rutinkan membaca Al-Qur'an walau beberapa ayat setiap usai shalat.
  2. Rutinkan sedekah walau dengan nominal yang sederhana.
  3. Rutinkan shalawat kepada Rasulullah SAW setiap melangkahkan kaki.

Pegang amalan itu erat-erat, jaga keberlangsungannya, dan jangan biarkan terputus. Melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga inilah, Allah SWT akan mengokohkan pondasi iman kita di dunia dan membukakan pintu surga-Nya kelak di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.

----

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah di siang hari yang mulia ini, marilah kita memohon taufiq dan pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan keistiqamahan. Sehebat apa pun rencana kebaikan kita, ia tidak akan terwujud tanpa izin dan kekuatan dari Allah. Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan di lingkungan keluarga dan masyarakat kita, serta membimbing anak-cucu kita untuk terbiasa mencintai masjid, Al-Qur'an, dan amal shalih sejak dini.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, kuatkanlah keimanan di dalam dada kami dan hiasilah hidup kami dengan kebiasaan-kebiasaan yang Engkau ridai. Berikanlah kami kekuatan untuk istiqamah dalam menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu hingga akhir hayat kami. Ya Allah, bimbinglah keluarga dan anak-anak kami agar terbiasa mencintai kebaikan, mendirikan shalat, serta gemar berinfaq dan bersedekah. Ampunilah segala dosa dan kekhilafan kami, serta wafatkanlah kami semua dalam keadaan husnul khatimah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ... فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Penulis: Akbar Trio Mashuri (LAZIS Nurul Falah)