Lazis Nurul Falah
gradient

Kisah Sahabat Nabi Mush'ab bin Umair

Edukasi • 141x •
image

Lembah Makkah pernah melingkupi seorang pemuda dalam balutan sutra terhalus dan wangi minyak kesturi yang semerbak di setiap kelokan jalan. Dialah Mush'ab bin Umair, permata kabilah Bani Abdidar yang diasuh dalam gelimang kemewahan oleh sang bunda, Khannas binti Malik. Parasnya elok, langkahnya memikat, dan alas kakinya didatangkan langsung dari negeri Hadramaut. Namun, ketika gema risalah tauhid melintasi dinding-dinding Darul Arqam, jiwa mudanya tersentak. Ia memilih menukar seluruh kenikmatan fana itu dengan kemuliaan abadi yang dibawa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kabar keislamannya sampai ke telinga Khannas bagai petir di siang bolong. Kemarahan sang ibu berujung pada kurungan yang dingin dan ancaman pemutusan harta. Saudara kandungnya menyangka lapar akan mematahkan keyakinannya, tetapi keteguhan hati Mush'ab tak goyah sedikit pun.

"Wahai Ibu, demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan agama ini walau leherku terputus," ucap Mush'ab dengan suara yang bergetar menahan pilu, menatap mata wanita yang melahirkannya.

Ketika kelengahan penjaga membuka celah kurungan, Mush'ab meloloskan diri dan bergabung dalam kafilah hijrah pertama menuju Habasyah. Bangsawan muda yang dahulu melangkah anggun berbalut kain terindah itu kini mengenakan jubah kasar bertambal kulit domba. Kulitnya yang dahulu lembut mulai mengering dihembus angin gurun yang garang, tetapi bola matanya memancarkan ketenteraman hakiki yang tak pernah ia reguk dalam kamar peraduannya.

Kecerdasan, kelembutan tutur kata, serta kedalaman akhlaknya membuat Rasulullah memercayakan amanah agung: menjadi duta Islam pertama ke Madinah, kota yang kala itu masih bernama Yatsrib. Tugas berat tersebut ia tunaikan dengan kesabaran dan kebijaksanaan luar biasa. Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan berdialog tanpa cercaan di hadapan para pemuka kabilah. Satu demi satu tokoh berpengaruh membuka hati mereka. Berkat dakwahnya yang teduh, hampir tiada satu pun rumah kaum Anshar melainkan di dalamnya telah bersemi kalimat syahadat. Madinah pun bersiap menyambut sang Nabi.

Waktu bergulir hingga bergolak Perang Uhud di utara Madinah. Di tengah gemuruh benturan baja dan denting pedang, Rasulullah menyerahkan panji perang kaum Muslimin ke tangan Mush'ab. Amanah suci itu ia genggam erat di tangan kanannya, berkibar anggun sebagai poros keteguhan pasukan.

Namun, ketika barisan pasukan panah kaum Muslimin goyah akibat godaan rampasan dunia, musuh melancarkan serbuan balik yang memorak-porandakan barisan. Keadaan kian genting saat tersiar desas-desus bahwa Rasulullah telah gugur. Demi mengalihkan perhatian lawan dan melindungi keselamatan baginda Nabi, Mush'ab sengaja memusatkan pandangan musuh kepada dirinya sendiri. Ia mengibarkan panji setinggi mungkin dan bertakbir dengan lantang seraya melantunkan firman Allah.

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul yang telah didahului oleh beberapa orang rasul!" seru Mush'ab di antara debu pertempuran yang pekat.

Pasukan berkuda lawan mengepungnya bagai serigala lapar. Ibnu Qami'ah menerjang lalu menebas tangan kanan Mush'ab hingga putus. Tanpa jerit gentar, Mush'ab segera menyambut panji yang nyaris tumbang itu dengan tangan kirinya. Tebasan kedua menyusul, memotong tangan kirinya pula. Dalam kepungan rasa sakit yang meremukkan raga, ia merengkuh tiang panji ke dadanya dengan sisa kedua lengannya, menolak membiarkan panji tauhid mencium tanah. Hingga akhirnya, sebuah tombak menusuk dadanya dan menyudahi tarikan napas terakhirnya.

Usai pertempuran mereda, Rasulullah berjalan menyusuri barisan syuhada. Tatapan beliau terpaku pada jasad kaku sang pemuda yang terbujur di atas pasir berbatu. Sehelai kain burdah pendek yang membalut tubuh Mush'ab tak sanggup menutup seluruh raganya; jika kepalanya ditutup, kakinya tersingkap, dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka.

Air mata baginda Nabi menetes membasahi pipi. Beliau bersabda, "Tutuplah kepalanya dengan kain itu, dan tutuplah kedua kakinya dengan rumput idzkir."

Sambil memandangi duta pertamanya, beliau berbisik penuh keharuan, "Dahulu di Makkah, tiada kulihat seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rupawan parasnya daripada dirimu. Namun kini, engkau berbaring di sini dengan rambut kusut, berbalut sehelai burdah yang tak cukup menutupi tubuhmu." Mush'ab telah menuntaskan janji setianya, menukar kemewahan fana dengan keharuman abadi di sisi Tuhannya.