KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَضْحَى عِيْدًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَشَرَعَ فِيْهِ نَحْرَ الْأَضَاحِيْ قُرْبَانًا لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، نَبِيُّ الرَّحْمَةِ وَقُدْوَةُ الْأُمَّةِ فِي التَّضْحِيَةِ وَالْيَقِيْنِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk mendekati hari-hari agung di bulan Dzulhijjah. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah kita dalam setiap nafas pengabdian kepada Allah.
Sebentar lagi, gema takbir akan berkumandang, menandakan tibanya Idul Adha. Salah satu syiar yang paling utama di hari itu adalah menyembelih hewan kurban. Namun, jamaah sekalian, pernahkah kita bertanya: Kurban seperti apa yang benar-benar diterima oleh Allah? Kurban seperti apa yang dirindukan oleh pintu-pintu surga?
Allah SWT memberikan jawaban tegas dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
"Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya."
Jamaah yang berbahagia,
Kurban yang dirindukan surga bukanlah kurban yang sekadar adu besar bobot sapinya, bukan pula kurban yang niatnya agar dipuji oleh tetangga. Kurban yang sejati adalah kurban yang lahir dari Ketakwaan dan Keikhlasan.
Mari kita menoleh sejenak pada kisah agung Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau diperintahkan menyembelih putra tercintanya, Ismail AS, beliau tidak bertanya "mengapa?". Beliau tidak mengeluh "kenapa harus anakku?". Yang ada hanyalah ketaatan mutlak. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa berkurban adalah tentang menyembelih "ego" kita, menyembelih rasa memiliki yang berlebihan terhadap dunia, dan meletakkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
Bayangkan perasaan seorang ayah yang sudah berpuluh-puluh tahun menanti kehadiran anak, namun saat sang anak tumbuh remaja, Allah memintanya kembali. Itulah puncak dari pengorbanan. Dan ketika keikhlasan itu sudah mencapai puncaknya, Allah menggantinya dengan seekor domba besar dari surga.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Keteladanan ini dilanjutkan oleh Nabi kita Muhammad SAW. Beliau adalah pribadi yang paling dermawan dalam berkurban. Dalam sebuah riwayat, saat Idul Adha, beliau menyembelih dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk. Satu untuk dirinya dan keluarganya, dan satu lagi beliau niatkan: "Ya Allah, ini untuk umatku yang belum bisa berkurban."
Lihatlah betapa luas kasih sayang Rasulullah. Beliau berkurban bukan untuk pamer kekuatan harta, tapi untuk merangkul umatnya yang fakir agar bisa merasakan kebahagiaan di hari raya. Inilah kurban yang dirindukan surga: Kurban yang didasari rasa cinta kepada pencipta dan empati kepada sesama hamba.
Maka, bagi kita yang diberikan kelebihan rezeki, janganlah kita menunda-nunda. Nabi SAW memberi peringatan keras:
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad & Ibnu Majah).
Kurban adalah bukti kejujuran iman kita. Jangan sampai kita mampu membeli gadget terbaru, mampu mencicil kendaraan mewah, namun merasa berat untuk membeli satu ekor hewan kurban setahun sekali. Ingatlah, hewan yang kita sembelih itu kelak akan menjadi saksi dan kendaraan kita di jembatan sirathal mustaqim.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang terpanggil melakukan kurban terbaik, kurban yang tulus, dan kurban yang membawa kita menuju rida-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita luruskan niat. Jika tahun ini kita ditakdirkan bisa berkurban, pastikan harta yang digunakan adalah harta yang halal. Pastikan hewan yang dipilih adalah yang terbaik sesuai kemampuan, bukan yang paling murah sekadar menggugurkan kewajiban. Karena kita sedang mempersembahkan sesuatu untuk Allah yang Maha Baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik.
Bagi yang belum mampu tahun ini, jangan berkecil hati. Berazamlah (berniat kuat) dan mulailah menabung. Allah Maha Tahu apa yang ada di dalam hati kita.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, terimalah amal ibadah kami. Jadikanlah kurban kami sebagai penghapus dosa-dosa kami. Sebagaimana Engkau menerima kurban Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW, terimalah pula kurban dari tangan-tangan kami yang penuh khilaf ini. Jadikanlah kami pribadi yang sanggup mengorbankan kepentingan dunia demi meraih cinta dan surga-Mu.