Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi masa depan buah hatinya. Namun, tanpa disadari, niat baik yang tidak diiringi dengan pemahaman dan kontrol emosi yang baik kerap kali terjebak dalam pola asuh yang salah (toxic parenting). Sikap menuntut berlebihan, membanding-bandingkan, membentak, hingga mengabaikan perasaan anak dapat melukai mental mereka hingga dewasa.
Islam melarang keras segala bentuk tindakan yang merusak dan menzalimi jiwa sesama, terlebih kepada anak kandung yang merupakan amanah agung dari Allah Swt. Menjadi orang tua yang sehat secara emosional adalah bentuk pertanggungjawaban iman kita kepada Sang Pencipta.
Mendidik Tanpa Menzalimi Jiwa Anak
Pola asuh yang toxic sering kali bersumber dari ego orang tua yang ingin menjadikan anak sebagai pemuas ambisi pribadi. Anak dituntut untuk memenuhi ekspektasi tanpa pernah didengar suara dan aspirasinya. Padahal, setiap anak memiliki keunikan, bakat, dan garis takdirnya masing-masing.
Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga keutuhan jiwa dan tidak menimbulkan bahaya atau kesulitan bagi orang lain. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam mengasuh anak di dalam rumah tangga.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya: "Dari Abu Sa'id Saad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Tidak boleh ada bahaya (yang dimulaikan) dan tidak boleh ada balasan bahaya (yang merugikan).'" (HR. Ibn Majah no. 2340 & Daraqutni no. 4541)
Menyakiti perasaan anak dengan kata-kata kasar, label negatif, atau amarah yang meledak-ledak termasuk dalam perbuatan yang memberikan dampak bahaya (dharar) bagi tumbuh kembang emosional mereka.
Menjauhi Sifat Keras Hati dan Membanding-bandingkan
Salah satu ciri utama orang tua yang toxic adalah sikap keras hati dan gemar membandingkan anak dengan orang lain. Tindakan ini secara perlahan mengikis rasa percaya diri anak dan menanamkan benih iri hati serta rasa tidak berharga dalam diri mereka.
Al-Qur'an menuntun kita untuk selalu berlapang dada dan mengedepankan ma'ruf (kebaikan) dalam mendidik keluarga, bukannya dengan sikap yang memicu keputusasaan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya mengajarkan shalat dan puasa, melainkan juga menjaga kesehatan mental rumah tangga agar terlindungi dari kemaksiatan, kedzaliman, dan kepedihan batin akibat pengasuhan yang melukai.
Langkah Nyata Menjadi Orang Tua yang Menyejukkan
Memutus rantai pola asuh toxic memerlukan keberanian untuk membenahi diri sendiri (self-reflection). Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- Mendengarkan dengan Empati: Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa langsung dihakimi atau dipotong bicaranya.
- Memisahkan Perilaku dan Diri Anak: Jika anak berbuat salah, tegurlah perbuatannya secara spesifik tanpa melabeli kepribadiannya secara umum.
- Belajar Meminta Maaf: Jangan ragu untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak jika orang tua melakukan kekhilafan atau terbawa emosi.
- Mengapresiasi Usaha Anak: Fokuslah pada proses dan ikhtiar yang telah dilakukan anak, bukan sekadar hasil akhir atau angka standar pencapaian.
Mengalirkan Keberkahan Keluarga Lewat Kepedulian
Mendidik anak dengan hati yang bersih dari rasa toxic adalah ikhtiar spiritual yang berkesinambungan. Selain membenahi pola komunikasi di rumah, menyempurnakan ikhtiar pengasuhan dapat dilakukan dengan memperbanyak doa dan sedekah untuk keberkahan keturunan.
Mari kita ciptakan rumah yang aman, hangat, dan menyejukkan bagi buah hati. Salurkan pula sebagian rezeki dan kepedulianmu melalui LAZIS Nurul Falah untuk mendukung program pendidikan dan pengasuhan anak-anak yatim serta dhuafa, agar Allah Swt. senantiasa melimpahkan rahmat bagi keluargamu.