Lazis Nurul Falah
gradient

Jadilah Orang Pemaaf

Keislaman •
image

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الْغَفُورِ الرَّحِيْمِ، الَّذِي جَعَلَ الْعَفْوَ وَالصَّفْحَ شِعَارًا لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَجْزَلَ الثَّوَابَ لِمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ الْكَرِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْرَمُ النَّاسِ خُلُقًا وَأَحْلَمُهُمْ قَلْبًا إِذَا جَاءَهُ الأَذَى وَالتَّقْصِيْرُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ تَقَلَّدُوا أَخْلَاقَ القُرْآنِ وَكَانُوا لِلنَّاسِ أَمَانًا وَرَحْمَةً.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang tidak hanya diukur dari seberapa panjang sujud kita di malam hari, melainkan juga diukur dari seberapa luas kelapangan dada kita dalam memaafkan kesalahan sesama manusia di siang hari.

Kehidupan bermasyarakat tidak pernah luput dari gesekan, salah paham, dan khilaf. Manusia tempatnya salah dan lupa. Namun, yang membedakan antara seorang mukmin yang berjiwa besar dengan yang berjiwa sempit adalah kemampuannya untuk mengendalikan amarah, menelan ludah kepahitan akibat disakiti, lalu menggantinya dengan kata maaf yang tulus.

Allah SWT menyematkan sifat mulia ini langsung di dalam Al-Qur'an sebagai ciri utama Al-Muttaqin (orang-orang yang bertakwa): mereka yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Jamaah yang berbahagia,

Mengapa Islam sangat menganjurkan kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf?

Pertama, Memaafkan Adalah Ciri Ahli Surga yang Berjiwa Mulia

Dendam dan rasa benci adalah bara api yang membakar hati pemiliknya sebelum ia membakar orang lain. Orang yang pendendam hidupnya tidak akan pernah tenang karena pikirannya terus dikuasai oleh kebencian. Sebaliknya, memberi maaf adalah pintu ketenangan batin yang luar biasa. Allah SWT menjanjikan ampunan dan surga bagi mereka yang pemaaf, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syura ayat 40:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim."

Kedua, Meneladani Akhlak Agung Rasulullah SAW. Baginda Nabi Muhammad SAW adalah teladan abadi dalam hal memaafkan

Sepanjang sejarah dakwahnya, beliau kerap dicaci, dilempari batu, diusir, bahkan hampir dibunuh oleh kaum musyrikin. Namun, bagaimana sikap beliau ketika berdiri sebagai pemenang di Kota Makkah (Fathu Makkah) di hadapan orang-orang yang dulu menyiksanya?

Beliau tidak menuntut balas, melainkan bersabda dengan kelembutan yang agung: "Izhhabu fa antumul thulaqa’"—pergilah kalian, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bebas. Beliau memaafkan mereka tanpa syarat. Inilah keluhuran budi yang meluluhkan hati musuh hingga akhirnya banyak dari mereka yang masuk Islam secara sukarela.

Ketiga, Memaafkan Justru Mengangkat Derajat Kemuliaan Seseorang

Seringkali akal pendek manusia mengira bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan atau kekalahan. Padahal, sabda Rasulullah SAW menegaskan sebaliknya dalam hadits riwayat Imam Muslim:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

Artinya: "Dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya melainkan kemuliaan."

Orang yang berbesar hati memaafkan justru dipandang tinggi di hadapan Allah dan terhormat di mata sesama manusia. Wibawanya terjaga, jiwanya merdeka, dan ia terbebas dari rantai kebencian yang membelenggu.

Keempat, Menyucikan Hati dan Membuka Pintu Keberkahan

Memaafkan juga berkaitan erat dengan kesalehan sosial dan kedermawanan hati. Seringkali, saat seseorang melapangkan dadanya memaafkan kesalahan saudaranya, ia juga terdorong untuk kembali merajut silaturahim, berbagi, dan bersedekah kepada orang tersebut. Inilah harmoni hidup yang membersihkan jiwa dari racun permusuhan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Memaafkan memang bukan perkara yang mudah. Ia menuntut latihan batin yang berat dan mujahadah (kesungguhan) melawan ego dan gengsi pribadi. Namun, bayangkan betapa damainya dunia ini jika setiap dari kita memiliki kerelaan untuk berkata: "Aku memaafkanmu, mari kita mulai lembaran baru."

Mari kita renungkan: jika kita sendiri sangat berharap agar Allah SWT kelak memaafkan dosa-dosa kita yang begitu banyak di hari kiamat, maka tidakkah pantas jika kita hari ini memaafkan kesalahan kecil saudara-saudara kita di dunia?

Mulai hari ini, lepaskan beban dendam di dada. Maafkan kesalahan pasangan kita, anak-anak kita, tetangga kita, rekan kerja kita, dan siapa pun yang pernah melukai hati kita. Jadilah oase yang menyejukkan, bukan duri yang melukai.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.

--------

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah di siang hari yang mulia ini, marilah kita menundukkan hati memohon kepada Allah SWT agar diberikan kebersihan jiwa dari sifat dendam, dengki, dan rasa benci. Mari kita doakan pula saudara-saudara kita, agar kita senantiasa dikumpulkan dalam ikatan persaudaraan yang tulus karena Allah.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat dendam, iri, dan dengki. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang pemaaf, yang gemar menyambung silaturahim, serta mudah mengampuni kesalahan orang lain sebagaimana kami mengharapkan ampunan-Mu. Ya Allah, jadikanlah rumah tangga kami, lingkungan kerja kami, dan masyarakat kami dipenuhi dengan kedamaian dan kasih sayang. Ampunilah dosa-dosa kami, mudahkanlah rezeki kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Penulis: Akbar Trio Mashuri (LAZIS Nurul Falah)