Lazis Nurul Falah
gradient

Cahaya Cinta Rasulullah Menebar Kasih Sayang

Keislaman • 242x •
image

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَأَنَارَ بِهِ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْحَقِّ وَالْيَقِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ وَالْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَسَّدُوا مَعَانِيَ الرَّحْمَةِ وَالْوَفَاءِ فِي الدِّيْنِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang tidak hanya melahirkan kekhusyukan dalam ibadah mahdhah, tetapi juga memancarkan kelembutan hati dan kasih sayang kepada seluruh makhluk hidup di muka bumi ini.

Allah SWT mengutus Baginda Nabi Muhammad SAW ke dunia ini dengan satu misi agung, yaitu menyebarkan kasih sayang. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Anbiya ayat 107 yang baru saja dibacakan, yang artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam."

Cahaya cinta dan kasih sayang Rasulullah SAW bukanlah sekadar teori atau retorika. Beliau adalah teladan nyata yang mencontohkan bagaimana rahmah harus mewujud dalam setiap interaksi sosial, baik kepada keluarga, anak yatim, orang miskin, lingkungan, bahkan kepada orang-orang yang membenci beliau sekalipun.

Jamaah yang berbahagia,

Mari kita selami bagaimana cahaya kasih sayang Rasulullah SAW terpancar dalam kehidupan beliau, agar kita bisa menirunya:

Pertama, Kasih Sayang kepada Kaum Lemah dan Anak Yatim.

Rasulullah SAW adalah pelindung utama bagi mereka yang tertindas. Beliau tidak pernah membiarkan kaum dhuafa merasa terasing. Beliau mendidik umatnya untuk mengasihi sesama manusia di bumi agar mendapatkan kasih sayang dari penguasa langit. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya: "Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi oleh Zat yang Maha Penyayang. Sayangilah siapapun yang ada di bumi, niscaya Zat yang ada di langit akan menyayangi kalian."

Di tengah masyarakat, menebar kasih sayang berarti menaruh kepedulian pada nasib tetangga yang kekurangan, menyisihkan sebagian rezeki melalui zakat dan sedekah untuk anak-anak yatim, serta menjamin bahwa tidak ada hak orang miskin yang kita abaikan.

Kedua, Menjawab Kebencian dengan Doa dan Kelembutan.

Cahaya cinta Rasulullah SAW paling benderang terlihat saat beliau menghadapi ujian dakwah. Ketika beliau berdakwah ke kota Thaif, beliau dilempari batu oleh penduduk setempat hingga kaki beliau berdarah. Malaikat penjaga gunung datang dan menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan gunung yang dijaganya. Namun, apa jawaban manusia penuh kasih sayang ini?

Beliau menolak dan justru berdoa: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Aku berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah-Mu." Rasulullah mengajarkan kita untuk memutus rantai kebencian dengan tali kasih sayang. Di zaman modern saat ini, ketika caci maki dan adu domba begitu mudah tersebar di media sosial, kita sangat butuh cahaya kelembutan Rasulullah agar lisan dan jempol kita tidak ikut merusak persaudaraan.

Ketiga, Kasih Sayang sebagai Tolok Ukur Keimanan.

Islam tidak mengenal kesalehan yang egois. Iman seseorang belumlah sempurna jika ia tidak memiliki rasa kasih sayang di dalam hatinya. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sebuah hadits:

لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَرَاحَمُوا

Artinya: "Kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling menyayangi." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang." Nabi menjawab: "Kasih sayang itu bukanlah kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (saja), melainkan kasih sayang yang bersifat umum (kepada seluruh makhluk)." (HR. At-Thabrani).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Menebar kasih sayang adalah jalan menghidupkan sunnah Nabi yang paling mendasar. Kasih sayang dalam keluarga akan melahirkan ketenangan (sakinah). Kasih sayang dalam bertetangga akan melahirkan kedamaian. Dan kasih sayang dalam bermasyarakat melalui zakat, infaq, serta kedermawanan akan menghancurkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Mari kita jadikan diri kita sebagai kepanjangan tangan dari cahaya cinta Rasulullah SAW. Jadilah pribadi yang menyejukkan di mana pun kita berada. Ringankan beban orang yang kesusahan, usaplah kepala anak yatim dengan santunan, dan hiasi hari-hari kita dengan akhlak yang mulia. Semoga dengan menebar kasih sayang di bumi, kita layak mendapatkan kasih sayang dan syafaat Rasulullah SAW, serta rida Allah SWT di surga-Nya kelak.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah di siang hari yang penuh berkah ini, mari kita bulatkan tekad untuk membersihkan hati kita dari sifat pendendam, sombong, dan kikir. Mari kita hiasi kehidupan digital dan dunia nyata kita dengan menebar optimisme serta kedamaian. Gerakkan harta kita untuk membantu program-program sosial dan kemanusiaan yang dikelola secara amanah, sebagai bukti nyata bahwa cahaya cinta Rasulullah SAW benar-benar hidup di dalam dada kita.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, penuhilah hati kami dengan rasa kasih sayang kepada sesama hamba-Mu. Jauhkanlah kami dari sifat kasar, kikir, dan membenci. Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu meneladani akhlak mulia Baginda Rasulullah SAW dalam menebar rahmat bagi semesta alam. Bersihkanlah harta kami dengan zakat, berkahilah umur kami dengan sedekah, dan kumpulkanlah kami beserta seluruh keluarga kami kelak di dalam surga-Mu bersama manusia yang paling Engkau cintai, Nabi Muhammad SAW.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ... فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Penulis: Akbar Trio Mashuri (LAZIS Nurul Falah)